Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Kutemukan secarik kertas yang sudah dilipat-lipat dengan lipatan yang sama sekali tidak rapi dibawah kursi saat menyapu. Saat ku buka … o ternyata ada tulisan Zahra, aku baca bersama suamiku sambil geli menahan tawa kawatir Zahra dengar. Biasanya dia malu dan ngambek kalau ada yang menertawakannya.

Ternyata kertas itu berupa surat yang ditulis Zahra untuk sahabat karibnya yang sudah beberapa bulan berpisah karena pindah rumah. Namanya Dinda, memang kesehariannya mereka berdua tidak bisa terpisahkan … nempel terus seperti perangko biarpun mereka berbeda sekolah. Rupanya Zahra kangen banget dengan sahabatnya itu … sudah beberapa kali atur janji dengan Mama-nya Dinda untuk bertemu tapi selalu gagal karena ada saja acara dadakan.

Surat Zahra untuk Dinda:

 

Dinda

Dinda, aku seneng sama kamu

Kamu kalau mau sama aku inget aja foto aku ya

Satu pertanyaan lagi semoga kamu baik ya

O iya kamu pengen enggak ketemu adek aku

Adek aku pengen sama kamu dinda

aku juga pengen sama kamu Dinda

Kamu, Adek aku, yang terbaik Dinda

Aku pengen kamu kesini lagi …

 

 

 

(Karya: Irwansyah, dimuat di Majalah Alia)

 

Seperti biasanya, suasana senyap langsung terasa begitu saya menginjakkan kaki di ruang tamu. Jam sepuluh malam, anak-anak dan isteri sudah berkelana di alam mimpi, terlelap diperaduan. kadang dengan setumpuk baju yang belum selesai disetrika, kadang dengan buku bacaan yang berserakan disekitar tempat tidur anak-anak. Wajah isteri saya terlihat sangat lelah. Besok pagi setelah subuh, ada jadwal mengisi kajian di masjid dekat kampus. Sorenya ada rapat di sebuah yayasan dan malamnya ada kajian lingkar studi Islam. Itu artinya, saya seharian berada diluar rumah dan pulang larut malam. Seperti malam ini …

Sejak awal pernikahan, isteri saya faham bahwa suaminya adalah seorang dai yang aktif berdakwah. Hampir setiap hari keluar rumah untuk menyampaikan pengajian, mengisi training atau mengikuti kegiatan dakwah lainnya. Tak jarang harus keluar kota beberapa hari. Dan sampai hari ini, Alhamdulillah semua berjalan dengan baik.

Saya sering berfikir, betapa besar jasa isteri saya. Semua kegiatan saya yang lancar-lancar saja selama ini, tidak terlepas dari dukungan dan pengorbanannya. Keadaan rumah yang baik-baik saja selama saya pergi, membuat hati saya terasa aman dan nyaman melakukan aktifitas diluar. Dan begitu pulang, suasana “beres” yang terlihat, membuat saya merasa lega. Tidak ada hal-hal yang membebani batin.

Tentunya juga suami-suami yang lain. Isteri-isteri mereka memiliki andil yang tidak kecil. Saya yakin, bahwa dibelakang setiap laki-laki sukses, hampir selalu ada seorang wanita yang mem-back up keberhasilannya. Seperti juga isteri yang tidak becus mengurus rumah, hanya akan menambah kejengkelan para suami dan membebani pikiran.

Para suami kemudian melampiaskannya diluar rumah karena tidak betah, karena rumah tidak cukup memberi ketenangan dan kenyamanan. Betapa banyak suami yang lebih suka menghabiskan malam-malamnya di perempuan jalan atau pos ronda. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa manfaat yang berarti? Tak jarang berujung pada terbentuknya kelompok penjudi, pemabuk atau perbuatan haram lainnya.

Dengan alasan berbeda, sayapun termasuk banyak keluar rumah. Jadwal kesibukan saya yang padat, sering tidak memberikan waktu yang cukup bagi isteri saya beristirahat. Saya kuliah, bekerja, berdakwah dan menulis untuk majalah. Dan itu menyita sebagian besar waktu yang saya miliki.

Praktis, isteri saya mengambil alih hampir seluruh pekerjaan kerumahtanggaan. Memasak, mencuci, menemani anak-anak bermain dan belajar, mengecek hafalan mereka, melayani saya atau pekerjaan lain yang terus mengalir seolah tanpa henti.

Sementara saya belum mampu meringankan pekerjaannya. Secara fisik dengan menyediakan alat-alat bantu elektronik ataupun pembantu rumah tangga. karena saya bukan termasuk yang berpenghasilan besar. Atau secara psikis dengan selingan hiburan yang memadai. Hari Ahad-hari keluarga-pun sering keluar rumah karena ada acara penting yang datang mendadak. Hal yang kadang membuat saya merasa bahwa yang saya berikan kepadanya hanya setumpuk beban dan tanggung jawab.

Bayangkan, para isteri kita harus membereskan semua pekerjaan rumah yang melelahkan fisik, mengalokasikan uang belanja yang pas-pasan agar tidak kehabisan energi ditengah bulan, mengatur menu agar variatif meski terjangkau, mendidik anak-anak yang lebih sering menambah kerepotan daripada meringankan pekerjaan dan memberi perhatian dan melayani kita. Dengan jam kerja yang nyaris duapuluhempat jam. Mereka masih harus juga menjaga kebugaran tubuh dengan mencuri-curi waktu untuk beristirahat, menjaga kesabaran dan keseimabangan emosi melihat tingkah polah anak-anak yang kadang memancing kemarahan atau mengatur waktu ibadah dan merawat semangat spiritual mereka. Alangkah beratnya? Saya jadi tahu, dibalik kelembutan mereka, para isteri adalah manusia perkasa.

kita para suami, sering egois meminta hak. Apa yang kita cium haruslah wangi, yang kita lihat haruslah bersih rapi, yang kita dengar haruslah kemerduan, yang kita rasa adalah kelezatan dan tidurpun haruslah lelap. Sementara isteri-isteri kita adalah manusia biasa yang kadang khilaf dan lupa.

Adalah hal yang wajar jika beberapa hasil pekerjaan mereka tidak sempurna atau ada kekurangannya. Dan itu bukan alasan untuk mencari-cari kesalahan dan ketidaksempurnaan mereka. Ada fluktuasi iman dan ada saat-saat tertentu dimana para wanita terkena sindrom prahaid. meski tidak bisa memahami wanita secara sempurna, pengetahuan kita terhadap hal-hal semacam ini akan bisa membantu banyak. Paling tidak, kita menjadi tidak terlalu menuntut dan bisa menerima apa adanya, kemudian menghargainya.  Syukur kalau bisa membantu meringankan pekerjaan mereka., meski sekedar ucapan terimakasih, wajah cerah, sedikit pujian atau hadiah-hadiah kecil. Juga mendoakannya di setiap munajat kita agar Allah membantu mereka selalu mengikhlaskan niat dan tetap istiqamah. Percayalah itu sangat berarti.

Malam ini saya tertidur lelap, namun saya berjanji untuk memulainya besok. Bangun pagi dengan senyum mengembang dan mendekati isteri saya seraya berucap, “Terima Kasih isteriku, semoga Allah menerima Amal Ibadahmu.” Dan akan saya lihat semburat merah di wajahnya.

“Keluargaku”, karya Zahra

Keluargaku

Keluargaku terdiri dari 4 orang

Mereka adalah Ayah, Ibu, aku dan adikku

Kegemaranku adalah menulis

Adik gemar main  semua alat  musikku

Ibu gemar memasak

Ayah gemar main komputer

Kami suka melakukan kegemaran itu

Aku juga suka makan es krim

Adik suka makan wortel dan permen

Ibu dan Ayah suka makan nasi padang

Kami suka makan itu semua

Bukan hanya itu kami juga suka apa saja

Cerpen karangan Zahra

Agar tidak tercecer maka aku kumpulkan cerita pendek karangan Zahra, entah dari mana dia dapat ide … menurutku, tulisannya sudah cukup bagus untuk anak seusia Zahra (6th). Mudah-mudahan ke depan bakat menulisnya lebih baik lagi … Amin.

 

Bermain Sepatu Roda

Adi hari ini sangat senang karena ia akan bermain sepatu roda dengan Dudi. Adi dan Dudi gembira sekali bermainsepatu roda dan mereka bermain dengan senang. Adi dan Dudi suka main kejar-kejaran dan mereka main kejar-kejaran dengan sepatu roda. Tiba-tiba roda sepatu rodanya dudi lepas maka Adi mengantar Dudi pulang. Adi pulang kerumahnya tetapi ia masih mau main sepatu roda, ia pikir ini masih siang maka Adi bertanya pada ibunya. Kata Ibu ini sudah sore, maka Adi berlari ke kamar mandi untuk mandi sore. Setelah mandi Adi melihat ke jendela ternyata ini sudah malam. Adi ke kamar untuk tidur karena ia akan sekolah besok pagi. Adi dan Dudi sudah janji minggu depan akan main sepatu roda lagi bersama.

 

Pagi

Ayam berkokok tanda pagi

Kubuka jendela

Kulihat matahari

Rumpu-rumput basah

Bunga-bunga merekah

Pagi yang sangat cerah

Pagi yang indah

 

Kucingku

Kucingku amat lucu

Bulunya halus

Warnanya belang indah

Kucingku mengejar bola

Ekornya bergerak lucu

Kucingku tidak pernah mengganggu

Aku sayang padamu

Kau selalu menjadi teman bermainku

 

 

zahra dah masuk sd

cepatnya waktu berlalu

Gaya Tidur 2 Bidadariku

Lucu deh klo lihat gaya bobo’ 2 bidadariku … apalagi gaya ade’ Nabila yg klo bobo’ selalu tengkurap.

Bisa hilang stress klo lihat wajah-wajah tanpa dosa ini sedang bobo’ …

Bidadariku yang ke-2

Alhamdulillah telah lahir bidadariku yang ke-2 pada tgl 27 Februari 2008 jam 13.45 di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Bogor melalui operasi caesar.

Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan saat melihat puteri cantikku terlahir ke dunia … dengan kulit kuning langsatnya, dengan jernih bola matanya, dengan halus kulitnya, dengan mungil dan merah bibirnya … ah … kau memang seperti bidadari …

Aku dan suami tercinta hanya bisa berdo’a memohon kepada-Nya agar puteri kami selalu diberi kesehatan dan kecerdasan. Saat ini telah 3 bulan umurnya … dan puteriku begitu cepat pertumbuhannya … saat umur 2,5 bulan saja beratnya sudah 6,2 kg padahal aku hanya memberinya ASI tanpa tambahan susu formula. Aku bertekad keras akan terus memberikan ASI eksklusif sampai bidadariku berumur 6 bulan nanti.

Saat ini “FARAH NABILA GHASSANI” begitu kami namai-nya, sudah mulai belajar tengkurap … aku merasakan begitu cepat perkembangan anak ke-2ku ini dibanding kakaknya dulu. Bahkan Nabila sudah mulai tumbuh gigi dibagian bawah … sudah mulai tertawa ngakak, suka ngoceh sendiri, ramah sekali kalau bertemu orang … setiap melihat orang ia tegur duluan dengan bahasa bayi-nya… hahahaha

nabila

Zahra Sudah Daftar Sekolah

Hari Sabtu (16 Februari 2008) pagi-pagi sekali Zahra terpaksa harus dibangunkan dari subuh … karena menurut informasi pendaftaran sekolah harus antri berjam-jam dan harus dulu-duluan datengnya. Jadi deh berangkat daftar sekolah dari jam 6 pagi. Alhamdulillah perjuangan gak sia-sia Zahradapet nomor antrian 13 … berhasil dapet formulirnya … satu masalah selesai.

Calon sekolah Zahra sebenarnya gak terkenal-terkenal banget tapi peminatnya saat ini mulai banyak (bisa jadi juga karena pemenang PILDACIL ada disini). TK IT At-Taufiq … itulah pilihanku dan suami untuk calon sekolah Zahra, disamping ingin agar Zahra lebih mendalami ajaran Islam juga kami menginginkan pembentukan prilaku, tutur kata dan sopan-santun yang Islami selain ingin mengetahui bakatnya sejak dini. Karena pembentukan akhlak dan aqidah islam itu wajib sejak dini …

Yang aku baca dari kurikulum ajaran di TK ini bagus sekali … dan sudah pas dengan keinginan kami, klo dia dimasukkan di TK yang biasa-biasa saja apalagi TK umum … sayang rasanya. Aku lihat kemampuan Zahra lumayan lebih dibanding seumurannya … Zahra yang belum sekolah sudah mengenal huruf a – z baik huruf besar maupun kecil apapun model tulisannya, sudah mengenal angka bahkan sekarang sudah bisa membaca 2 suku kata berkat latihan setiap hari, kemampuan main komputernya dah banyak banget … sampai mewarnai dah bagus banget menurutku … rapi gak keluar garis. Doa’-do’a yang sering digunakan sehari-haripun dia sudah hafal … seperti mau makan, sesudah makan, mau tidur, doa’ untuk orang tua dan lain-lain, sudah mengenal huruf hijayah (belajar iqro’ sedikit-sedikit) …

Aku hanya berharap yang terbaik untuk anakku … bukan memaksanya, tapi mengajarkannya disiplin sejak dini. Mungkin dirasa keras … karena keharusan untuk sesuatu yang memang harus itu wajib, gak bisa ditawar lagi.

Apalagi aku banyak waktu dirumah … disela-sela kesibukan jualan onlineku, aku masih bisa kasih Zahra home schooling setiap harinya. kebetulan aku punya anak yang semangat belajarnya tinggi … aku bangga sekali. Aku gak perlu repot-repot ngerayu dia belajar … tapi Zahra duluan yang ngingetin aku kapan waktunya belajar. Memang Zahra belum bisa konsentrasi lama (sampai berjam-jam) tapi cukup 15 menit – 1/2 jam sudah cukup, itu diulang terus sampai malam menjelang tidur.

Dari informasi yang aku dapat dari pihak sekolah dan tetanggaku tentang calon sekolah Zahra, untuk SD-nya pendaftarannya aja mulai antri dari jam 2 pagi. Padahal formulir baru dibagikan jam 5 pagi … dari malam sudah banyak para orangtua yang terpaksa menginap di sekolah, itu untuk yang bukan dari alumni TK At-Taufiq. Kalau TK-nya dah disitu pendaftaran dah dikolektif sebelumnya jadi lebih mudah, gak pake antri-antri lagi. Itu juga sebabnya aku dan suami sepakat untuk menyekolahkan Zahra mulai TK di situ saja. Jadi nanti pas masuk SD sudah diprioritaskan.

Tanggal 27 – 29 Februari nanti Zahra test/observasi di calon TK-nya. Emmm … mudah-mudahan dede’ dikandunganku bisa bertahan sampe Zahra test masuk TK nanti. Kasian Zahra klo harus didampingi Ayahnya atau tetehnya (pembantu dirumah). Sementara itu hari kerja, Ayahnya agak berat klo harus ijin gak masuk kerja … sampe 3 hari lagi.

Tapi yang membuat aku agak tenang, Zahra tuh berani … dah berani sama orang biarpun belum dikenalnya. Klo ditanya-tanya orang dia langsung jawab dengan tegas, misalnya di pusat belanja, di toko buku atau diarena bermain anak. Waktu diajak tetehnya main kerumahnya, kata si teteh Zahra berani main-main bareng teman-teman seumurannya yang ada di situ. Jadi biarpun kalau akhirnya aku gak bisa dampingin Zahra nanti pas test masuk sekolah, Zahra bisa mandiri seperti biasanya …

Di rumah aku dah ngajarin dia untuk mandiri, bisa mengerjakan sesuatu sendiri khususnya untuk kebutuhan dia sendiri, seperti buka baju sendiri, pakai baju sendiri, mandi sendiri (waktu bilasnya masih dibantu takut gak bersih), makan sendiri, pipis sendiri, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, beresin mainannya sendiri, mengambil sesuatu yang ia mau gak dibantu lagi, tidurpun sudah sendiri.

Itu semua aku lakukan agar dia gak selalu bergantung sama aku maupun tetehnya … aku gak mau klo dia mengangap teteh adalah pembantu yang harus membantu dia setiap dia butuh.

Semoga Zahra bisa lulus nanti di test masuk sekolahnya … aku dah janji sama Zahra klo dia lulus minta dibuatin nasi tumpeng kaya’ di ulang tahunnya tahun lalu. Karena foto zahra dan nasi tumpeng itu dipajang terus di meja komputer, tiap hari tu foto dipelototin terus … jadi dia keinget-inget terus. Klo dah janjiin sesuatu ke Zahra pasti ditagih terus … gak akan lupa dia … nagihnya gak tanggung-tanggung setiap hari!!!! mulai bangun tidur sampe malem mau tidur lagi, “kapan Zahra dibuatin nasi tumpeng, Bunda?” katanya.

cover majalah Alia             artikel zahra collection 1             artikel zahra collection diperbesar

Alhamdulillah, syukur kupanjatkan kepada-Mu ya Allah … untuk kedua kali, profil Zahra Collection dimuat di majalah, kali ini di muat di Majalah Alia, No. 03 Tahun V Sya’ban – Ramadhan 1428 H/September 2007. Ada di halaman 31 rubrik Mozaik yang mengangkat tema “Meraup rezeki di dunia Maya”.

Ceritanya suatu malam ada sms yang berasal dari Mba’ Ely, wartawan majalah Alia yang kebetulan mengenalku lewat milist “Bundainbiz”. Janjian wawancara 2 hari setelah itu, maka jadi deh dimuat … tapi sayangnya foto-ku gak ada nih (hehehe … kali aja klo ada fotoku sekalian bisa terkenal jadi selebritis).

ini cuplikannya:

Berangkat dari keinginan yang menggebu-gebu bahwa suatu saat bisnis ini bisa berkembang maju … lebih maju dari sekedar bisnis Ibu Rumah Tangga, INSYA ALLAH“. Kalimat inilah yang akan pertama kali Anda temui saat membuka blog milik Yeni. Harapan yang bukan tak mungkin bisa segera dicapai perempuan kelahiran Lampung, 22 Juni 1979 itu……….

Emm … salah satu penggebrak semangat, dimana selain aku ada 3 profil lagi yang ditampilkan yang menggeluti bisnis online juga yang sudah punya penghasilan perbulan jauh diatasku … “aku harus melebihi mereka pikirku!”.

Memang itu suatu kemungkinan yang bisa terealisasi jika aku terus bersungguh-sungguh, tetap semangat … itu semua tidak terlepas dari dukungan suami tercinta-ku

Thanks a lot Ayah … yang udah susah payah ngajarin bunda main blog, apalagi sekarang disibukin dengan peluncuran zahracollection.com. Padahal dikantor Ayah lagi sibuk banget, tapi gak pernah ngeluh dan gak ada kata nyerah keluar dari bibirmu. Tinggal nunggu beberapa hari lagi Insya allah www.zahracollection.com siap diiklankan di pasaran … hehehe…

Amin … ya Rabb, Engkau begitu dekat … rizki yang mengalir dibulan-bulan kehadiran buah hati dirahimku begitu menambah semangatku. Tetapkan aku selalu dalam Ridho-Mu ya Allah …

Tahun demi tahun kulalui … baik dulu 7 tahun sebelum menikah dalam kebersamaan jarak jauh kita karena terpisah oleh sebentuk ikrar yang belum disahkan baik saat ini 5 tahun sudah setelah ikrar itu syah dimata hukum dan agama, tak ada yang berubah sampai kurenungi beberapa minggu ini…

Sejak pacaran dulu tak pernah aku dapatkan sebentuk bunga mawar indah dan segar, kado ulangtahun yang mewah atau hadiah-hadiah bernilai mahal lainnya disaat hari ulangtahunku. Tapi aku menikmatinya … aku menikmati segala bentuk perhatianmu berupa ucapan kasih sayangmu ditelpon, kata-kata indah dan mesra dalam surat-suratmu, puisi-puisi cinta lewat sms-mu dan setelah menikah perhatian itu tidak pernah luntur sampai hari ini, kecupan-kecupan kasih sayangmu, pelukan hangat disaat tidur kita, lambaian tangan tanda penyejuk hati saat kau berangkat kerja … ahh itu semua membuatku semakin tak ingin jauh darimu.

Terkadang terpikir dihati kalau saja dulu aku mendapatkan pasangan hidup yang kaya raya, harta berlimpah, dan segala bentuk fasilitas mewah bisa aku dapatkan darinya kapanpun aku mau … Mobil mewah yang bisa membawaku jalan-jalan kemanapun aku mau, rumah besar dengan halaman yang luas … dan masih banyak lagi yang ada dipikiranku.

Itu semua hanya angan-anganku dan ternyata semua itu belum aku dapatkan … kebalikannya, aku hidup dengan seorang pria yang sederhana, kami memang sudah mempunyai sebuah rumah mungil, kendaraan yang hanya mampu membawa aku dan putri tercinta kami saja, tabungan yang hanya cukup untuk berjaga-jaga apabila ada kebutuhan mendesak dan terpenuhinya kebutuhan sehari-hari yang kurasa jauh lebih cukup dari sekedar mampu.

Sementara aku … aku baru bisa berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunderku saja. Penghasilanku hanya cukup untuk senang-senang aku dan anakku, itupun berkat ilmu-ilmu yang aku dapatkan dari sang suami dengan mengelola toko onlineku.

Sampai pada beberapa minggu ini, sang kekasihku berniat mengubah kebiasaannya … dia ingin membeli segala sesuatu perlengkapan pribadinya untuk mengganti yang lama yang sudah cukup usang. Wah … perubahan pikirku, ada apa????

Akupun terus berpikiran negatif … apakah ini masa puber suamiku kembali? Apakah suamiku tidak menyadari perasaanku yang merasa tersaingi?

Akhirnya pikiran-pikiran negatifku terusik dengan sebuah ucapan dihatiku … begitu picikkah aku ini???

Mengapa aku seperti ini??? Padahal kalau aku perhatikan sudah berapa lama suamiku tidak membeli baju-baju baru? sepatu baru? Ikat pinggang baru? kaca mata baru? bahkan tas kerja yang baru, tas ia pakai sehari-hari sudah sejak jaman kuliahnya dulu!!!

Aku terus berpikir … dan tanpa kusadari air mataku mengalir dan terus mengalir, aku sadar … yah aku sadar … aku mencintai suamiku karena kesederhanaannya. Aku begitu merindukan kesederhanaan itu. Aku merasa beruntung sekali mendapatkanmu, karena dengan hidup denganmu aku begitu mengerti apa arti sederhana yang sesungguhnya. “Segala sesuatu tidak boleh berlebih-lebihan” begitu kata-mu.

Ternyata aku malah sangat menginginkan kesederhanaanmu tetap seperti ini, aku tidak ingin semua ini hilang. Biarpun mimpi-mimpi itu terus kubangun untuk motivasi di hidupku, tapi kesederhanaanmu selalu aku syukuri.

Dalam diam aku terus berdo’a … berdo’a … semoga Sang pencipta tetap menjaga kehidupanku dan dirimu dalam Ridho-Nya. Semoga Sang Penguasa tetap menjaga hatiku … menjaga cintaku padamu agar tetap mencintaimu karena kesederhanaanmu.

Amin…

Teruntukmu Ayah: “I love U Suamiku, tetaplah menjadi pelita dihidupku … tetaplah menjadi segala inspirasi di hidupku … tetaplah berdampingan denganku disaat duka dan suka kita … Aku percaya Sang Maha Penguasa selalu bersama kita pabila kita selalu merasa dekat dengan-Nya”

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.