Kritis

Zahra Yang Mulai Kritis

Saat ini Zahra telah berumur 22 bulan (Juli 2005), 2 bulan lagi Zahra berumur 2 tahun. Aku sampai tak percaya akan perkembangan Zahra yang begitu cepat, dari kemampuan motoriknya, sampai kemampuan sosialnya. Zahra sudah bisa berbicara jelas sejak 1,5 tahun. Kata-katanya memang masih cadel, belum bisa menyebut “R”, tapi ada kata-kata yang sulit seperti “turun” masih dia sebut: “yuyun”, kata “sini” dia bilang “cini” dan kata “Bunda” dia baru bisa sebatas “Uda”. Tapi It’s Ok …. Itu sudah bagus banget dimataku dan Ayahnya.
Kalau kata “Ayah”, sejak umur 1 tahun sudah jelas bisa ia ucapkan tanpa cacat malah!!!!!
Sempet ngiri juga tapi gak apalah toh emang panggilan buat ayah tercintanya.
Aku yang setiap harinya dirumah, tau banget apapun perkembangan Zahra sejak bangun dipagi hari sampai tidur lagi dimalam hari. Tidak secuilpun perkembangannya yang lolos dari penglihatanku. Maklum sejak memutuskan untuk memiliki momongan aku sudah berjanji untuk mencurahkan seluruh kemampuanku untuk kecerdasan anakku.
Dari buku-buku bagaimana membuat bayi cerdas sejak dalam kandungan, mendengarkan musik klasik sejak dalam kandungan, mendengarkan dan membacakan ayat-ayat al Qur’an untuk sibayi sejak dalam kandungan, memperhatikan gizinya sejak aku hamil sampai saat ini.
Bahkan untuk urusan makan anakku, aku tidak mau menyerahkan pada pembantu sepenuhnya, semua aku yang kerjakan, mulai dari memilih menu, membeli bahan-bahan makanannya serta memasaknya. Mba’ yang membantuku mengurus Zahra dirumah aku anggap mitraku, seperti keluarga sendiri saja, dia kulatih bagaimana caraku mendidik Zahra, bagaimana aku memasak makanan Zahra, memilih menu makanannya dan lainnya.
Selain itu yang paling sering kulakukan sampai saat ini adalah mencari-cari segala sesuatu untuk kebutuhan perkembangan Zahra dari Internet. Wah, banyak sekali ilmu yang aku dapat dari dunia maya ini. Sudah hampir 2 tahun kebetulan di lingkungan perumahanku ada RT/RW net, berkat usaha Suamiku dan teman-temannya inilah jadi aku bisa kapanpun belajar untuk Zahra.
Yang paling menonjol adalah aku sekarang sudah lebih jelas mengarahkan dan melatih kecerdasan Zahra berkat artikel-artikel yang kubaca. Bahkan sejak 2 bulan lalu aku praktekkan dari apa yang telah ku pelajari. Hasilnya !!!!!!!!!!!
OOOOOO suatu perkembangan yang sungguh mencengangkan ….
Kebetulan sejak 2 bulan yang lalu Mba’ dirumahku baru, namanya Mba’ Ifath. Kataku dia cukup pintar, bahkan kalau saja nasib berkata lain dia pasti bisa sukses.
Dia juara MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an), perlombaan mengaji tingkat kabupaten dikampung halamanku, Lampung selatan. Lulusan pesantren di Banten, menurutku kalau dia sekolah formal ilmunya sudah setingkat dengan lulusan SMU.
Yah, alhamdulillah gak tau memang sudah jodoh akhirnya dia bisa mengikuti keluargaku, hijrah ke Bogor. Dia adalah anak dari teman Om Bambang di Lampung, paman Suamiku, ikut dengan keluargaku dengan tujuan ingin mencari ilmu yang bermanfaat, serta bisa menyebarkan dakwah islam. Subhanallah ….
Oleh karena itu, kesempatan ini tak kusia-siakan. Aku didik dia supaya bisa sedikit-sedikit memahami jalan pikiranku untuk mendidik Zahra menjadi anak yang berkualitas dalam hal ilmu dunia dan akhirat.
Sejak lebih dari 2 bulan lalu aku dan Mba’ Ifath, menjadikan rumah kami sebagai segalanya bagi Zahra. Aku tidak memanjakan Zahra dengan membelikan dia mainan yang mahal dengan iming-iming meningkatkan kecerdasan anak. Apapun yang ada dirumah bisa jadi bahan untuk permainan. Aku dan suami sepakat untuk mendidik Zahra searah, siapapun yang masuk kerumahku harus sejalan dengan kami dalam hal mendidik Zahra. Supaya ia tidak bingung. Kenapa baru 2 bulan lebih ini aku consent banget ??? karena aku tau Zahra mulai bisa memahami sesuatu dengan dalam dan mulai kritis sejak itu.
Alhasil, Zahra sekarang sudah hafal huruf hijaiiyah Alif sampai Ya’, meskipun kadang-kadang belum berurutan. Kalau kita tunjuk dan menanyakan “ini huruf apa?”, Zahra pasti tau. Begitu juga dengan huruf latin, Zahrapun berhasil menghafalkan huruf A-Z. Berkat latihan yang kukenalkan hampir setiap hari melalui permainan. Bahkan Zahra saat ini sedang tertarik mengeja huruf-huruf besar latin dibuku-buku yang ada di rumah. Kalau menghafal angka Zahra agak lambat. Dia sudah tau angka 1 – 10, bahkan angka belasan, tapi malas sekali kalau diajak menghafalnya.
Dalam hal menghafal bentuk, jenis, sesuatu benda, Zahra paling cepat. Menghafal tempat menaruh sesuatu juga demikian. Terkadang kami suka dipusingkan kalau mencari barang-barang yang terkadang dipindahkan letaknya oleh Zahra, tapi kalau Ia disuruh mencari, pasti ia ingat.
Zahra sudah aku biasakan sejak awal untuk tidak selalu bergantung pada mba’. Kalau aku butuh sesuatu yang Zahra mampu mengambilnya akan kusuruh dia, seperti mengambilkan bantal dikamar, buku, barang yang diletakkan dalam posisi rendah dan bukan pecah belah. Zahra dengan cepat akan membantu. Zahra paling suka menyapu (karena sering menirukan mba’ menyapu lantai), mengepel lantai, membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi kecil, membuka celana sendiri, memakai celana sendiri, membuang sampah kekotak sampah (sampah apa saja yang berceceran dilantai), membantu mba’ menjemur baju dan mengangkat baju yang sudah kering bahkan menaruh pakaian kotor ke tempatnya di belakang baik pakaiannya sendiri atau bukan.
Yang paling lucu adalah saat Ayah pulang kantor, Zahra sekarang sudah hafal kebiasaanku. Ia menggantikan posisiku melayani Ayah, saat Ayah datang (kalau Zahra belum tidur malam), ia berlari bersamaku membukakan pintu depan sambil berkata “Ayah tatang, tu Ayah tatang (maksudnya “datang”)”, lalu ia ikuti Ayah sampai kedalam sambil meng-absen apa-apa yang dikenakan Ayah harus dibuka satu-persatu. Lalu ia suruh Ayah cuci muka, “cuci uka (maksudnya “muka”) dulu Ayahnya”, setelah itu ia masuk kekamar menuju lemari pakaian ayah, minta tolong Bunda atau Mba’ untuk mengambilkan baju Ayah dan membawanya ke hadapan Ayah sambil menyuruh Ayah mengenakannya. Kemudian Zahra kebelakang untuk mengambilkan minum Ayah, karena belum sampai ke dispenser Zahra pasti minta tolong Bunda atau Mba’ dan bersikukuh ingin membawakan gelas Ayah, maka Bunda-pun ikut memegang gelas bersama-sama Zahra …. Takut tumpah kalau Zahra bawa sendiri. Setelah itu pasti Zahra diberi upah ciuman dan digendong oleh Ayah. Mengambilkan makan Ayah juga kalau saat itu Ayah belum makan malam. Rutinitas ini selalu dikerjakannya disetiap hari kerja Ayah.
Kalau melihatku atau Ayah sedang bersantai sambil tidur-tiduran atau memang mulai mengantuk, pasti yang ia tanyakan, “Kenapa Udanya? Cakit ya? Jala ulutin ya? (maksudnya “kenapa Bundanya? Sakit ya? Zahra Urutin ya?”)”, begitu juga perkataannya dengan Ayah. Tangan mungilnya pasti kearah betisku atau Ayah, atau ke punggung, untuk mencoba mengurut kami …. Wah nikmatnya tiada tara looooo …. Rasa nikmatnya bukan di betis atau dipunggung, tapi di hati yang paling dalam …. Terasa sekali bahwa Zahra memberi kedamaian dirumahku.
Zahra juga sudah aktif sekali bertanya “apa ini?”, “apa itu?”, “kenapa bla…bla…bla… uda?” bahkan sudah bisa berkata “kok orangnya bla…bla…bla…”
Konsep memilih dia sudah tau betul, sebab akibat sudah ia kuasai, sudah bisa mengomentari acara TV (menonton TV aku batasi sejak masih bayi karena kurang bagus buat perkembangannya) bahkan konsep bisnis kecil dia tau ….. hahahahahahaha.
Bahkan saat ini Zahra tau posisi dia, seperti didepan, dibelakang, disamping, diujung, dan dipojok, hahahahaha …
Kalau ada kata-kata yang baru ia dengar pasti kata-kata itu diulang-ulangnya sambil tertawa-tawa, mungkin aneh dipendengarannya.
Zahra paling suka mengajak siapa saja dengan kata-kata, “dudu’ cini yuk! (maksudnya “duduk sini yuk”). Lucu sekali mendengar suara Zahra, suaranya cempreng dan melengking apalagi kesukaannya menjerit-jerit terlebih kalau dilarang melakukan sesuatu, pasti deh over acting (misalnya berjoget-joget sambil mulutnya menahan geregetan).
Kalau Zahra gak melihat salah satu dari anggota keluarga dirumah, seperti gak lihat Bunda, dia pasti bertanya, “Uda mana ya? Ke walung tai’?” (maksudnya “Bunda mana ya? Ke warung kali?”), begitu juga kalau gak melihat mba’ dan Ayah. Zahra paling suka juga pakai kata “kali”, “deh”, “dong” dan “ah”.

Contoh-contoh Percakapan dengan Zahra


Pada saat ayah sarapan pagi dirumah sebelum berangkat kerja, sambil sarapan pagi Ayah menonton TV siaran ulang pertandingan sepakbola Word Cup malamnya. Seperti biasanya Zahra pasti gak mau nonton acara sepakbola itu, dia maunya film kartun atau nonton iklan saja, atau gangguin Ayah makan.
“Zahra jangan diganti-ganti dong Tv-nya, nomor 2 aja (Chanel 2 yang ada Sepakbolanya)”, kata ayah.
Tanpa ragu-ragu Zahra tetap pindah-pindahin chanel TV sambil berkata, “nomol 4 ya?”, maksudnya nomor 4. Kebetulan ada film kartun kura-kura.
Setelah bosan kutak-katik chanel TV, dia menuju piring ayah yang masih tersisa sarapan paginya.
“Jala-nya mau ini Ayah, mau pupu’”, maksudnya Jala sebutan buat dirinya sendiri, pupu’ tuh kerupuk.
“Zahra kan belum mandi, mandi dulu dong!”, begitu Ayah menimpali.
Zahra cemberut sambil menuju kearah TV yang sudah kembali ke chanel acara sepakbola yang sedang ditonton ayah sambil berkata, “Anti TV-nya jala matiin lo! Jala matiin ya?”, sambil senyum-senyum menuju ke TV. Maksudnya anti tuh nanti.
Spontan Ayah tertawa … ,”wah anak Ayah sudah bisa bisnis nih, minta kerupuk tapi ngancem ayah…”. Ada-ada aja Zahra ni.
Pernah juga kejadian mirip dengan sebelumnya. Ayah sedang makan juga, nah supaya Zahra gak gangguin Ayah makan, Zahra dikasih juga pegangan berupa kerupuk kesukaannya tapi ukurannya kecil.
Zahra melihat dipiring Ayah ada kerupuk juga tapi ukurannya lebih besar dari punyanya.
“Ayah mamam pupu’ juga, Jala juga ni, ama (maksudnya “sama”) ya”, sambil tangannya sibuk mau ikut-ikutan mengaduk-aduk isi piring Ayah.
Terus dia berkata,”cini jala cuapin (maksudnya “suapin”) Ayah ya?, sambil mengambil makanan ke sendok Ayah lalu memasukkan ke mulut Ayah.
“Gak usah deh, makasih, biar ayah mamam sendiri abis ini ya”, Kata Ayah sambil menarik lagi sendok yang dipegang Zahra.
Kemudian Zahra melepas kerupuk ditangannya lalu ditaruhnya dipiring ayah sambil berkata,”Talo (maksudnya “taruh”) cini dulu ya pupu’ Jala-nya”, Zahra suka banget pakai kata –nya disetiap obrolannya. Lalu dia berkata lagi, “buat ayah aja pupu’ Jala nya”.
“Wah, makasih … anak Ayah baik sekali”, kata Ayah.
Tapi tak berapa lama tangan Zahra … sssssssstttt ….menuju piring Ayah mengambil kerupuk milik Ayah yang ukurannya masih lebih besar sambil berkata,”Jala nya pupu’ yang ini ya Ayah?”,
Spontan ayah tertawa, “Wah anak Ayah ni dah ngerti banget konsep bisnis ya? Tadi pura-pura mo nyuapin ayah, ternyata mau tuker kerupuk yang gede”.
Hahahahaha Zahra…Zahra.
Pernah juga suatu waktu Zahra memberi komentar pada makanan yang sedang dimakan oleh Ayah.
Melihat isi piring Ayah penuh dengan berbagai jenis masakan, Zahra mulai tertarik untuk mendekat dan “ wah … enak tatai’ mamam Ayah?”, (maksudnya “enak sekali makan Ayah”), kata Zahra dengan ekpresi wajah kepengen banget.
Spontan deh Ayah tertawa.

Contoh betapa kritisnya Zahra saat ini


Saat hari Minggu sore, ayah ada dirumah. Ayah asik nonton TV baru aja bangun bobo’ karena semalem begadang nonton sepakbola, sementara Bunda sedang solat dikamar belakang. Zahra baru pulang sama mba’ dari JJS alias jalan-jalan sore.
“Assalamualaikum (mba’ Ifath menuntun Zahra mengucap salam klo masuk kerumah), alam itum”, kata Zahra.
“waalaikum salam”, Ayah menjawab, “darimana Anak Ayah sudah mandi nih, udah cantik”,
“dari ain (maksudnya “main”), jauh, cape’ jala-nya”, kata Zahra sambil melepas sepatu sandalnya. “Uda mana Ayah?” Tanya Zahra.
“Lagi solat dikamar”, jawab Ayah.
“Jala-nya mau ikut solat”, kata Zahra sambil mengetuk-ngetuk pintu minta dibukakan pintu kamar.
“sebentar lagi selesai, sini sama Ayah aja ya?”, kata Ayah
“Ayah udah solat?”, Tanya Zahra sambil tetap berdiri dipintu kamar.
“Udah”, jawab ayah.
“Kapan ?” Tanya Zahra sambil sepertinya berpikir, terlihat dari reaksi wajahnya. “Kan Ayah dali (maksudnya “dari”) tadi dudu”(maksudnya “duduk”) dicini, ga’ pelgi-pelgi (maksudnya “pergi”), kapan colatnya?”,Tanya Zahra terheran-heran.
Spontan Ayah terkejut trus tertawa, “hahahaha, anak Ayah kritis sekali. Tadi ayah dah solat sebelum Zahra datang”.
“O, udah colat ya? Uda juga udah colat ya?” Tanya Zahra.
Ayah langsung memeluk Zahra, “Pinter sekali anak Ayah, iya Bunda juga tu dah Solat, nanti Zahra ikut solat juga ya?”.
Subhanallah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s