Rumahku ….

Setelah melewati obrolan panjang bersama suamiku malam itu (7 Januari 2007), banyak pertimbangan yang melandasi niat kami, mulai dari Jarak rumahku dan kantor suami yang terlalu jauh (kurang lebih 4 jam bolak-balik Jakarta-Bogor), kondisi kesehatan suamiku akibat diperjalanan yang begitu jauh, keinginan suamiku untuk mendapatkan sertifikat2 bidang IT melalui kursus dan pelatihan di Jakarta dan masih banyak lagi. Akhirnya diambillah keputusan untuk melepas rumahku sesegera mungkin, mumpung anakku “Zahra” masih kecil (2 tahun 3 bulan).

Agak berat memang, dengan melihat kondisi perumahanku yang sudah ideal menurutku untuk jadi tempat tinggal. Dekat dengan Sekolah-sekolah bagus, pusat perbelanjaan (mall) kurang lebih 7 menit dari rumah, Rumah sakit, pasar tradisional Bogor (pasar anyar kebon kembang, pasar anyar warung jambu dan pasar Yasmin), apalagi ditambah sekitar rumah banyak juga warung yang menjual aneka kebutuhan sehari2 mulai dari sayur-lauk pauk sampai sembako, tukang sayur-tukang sayur yang gak pernah absen tiap hari dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang dan tempat-tempat hiburan pelepas lelah disaat hari libur seperti kebun raya Bogor.

Dilihat dari tampak depan pintu masuk perumahan kami (Bukit Cimanggu Citty), kita sepertinya memasuki perumahan kalangan elite saja. Tapi jangan salah, ini dikarenakan rumah-rumah yang ada di blok depan segede-gede gambreng dengan jalan yang besar serta mulus. Tapi memasuki blok-blok ujung apalagi menyusuri blok U baru deh keliatan pencilannya, tipe-tipe rumah mungil disitu (tipe rumah 36 dan 27). Memang cocok untuk keluarga yang baru memulai kehidupan dan yang sudah punya anak batas 2 (klo dah nambah lagi harus pindah rumah ato solusinya ningkat ke atas!).

Pertimbangan yang gak kalah penting saat memilih rumahku adalah udara yang masih sejuk. Coba deh klo hari libur, pagi-pagi keluar lalu lari pagi ke arah belakang menuju blok W trus ke cluster taman bunga dan taman Crysant kurang lebih menempuh jarak 400m-an balik lagi ke arah rumah maka sambil lari kecil lihat ke arah depan…. tampak perumahanku di apit oleh 2 gunung yang indah, mungkin itu gunung Salak dan gunung Pangrango (it’s wonderful!!!!).

Ada lagi pertimbangan yang harus dipikirkan, kawasan bebas banjir-jir-jir… Memang sudah kubuktikan sejak hampir 4 tahun aku tinggal disini belum pernah perumahanku dipenuhi air. Ini dikarenakan dibelakang dan disamping perumahanku masih banyak area resapan air (dikelilingi perkampungan penduduk yang banyak ditanami pepohonan).

Demikian kondisi rumahku, sekedar gambaran untuk dipikirkan dan pada akhirnya dipertimbangkan juga oleh pembaca yang berminat. Berikut gambaran denah rumahku:

Denah rumah


4 pemikiran pada “Rumahku ….

  1. Bun, mau pindah kemana? kenapa dijual? ntar naila kehilangan temen maen duong hiks..hiks…

    Bunda Zahra Say’s: Iya nih bun, aku juga sebenernya dah betah di bogor. Tapi klo ada rizki suamiku pengennya pindah kedaerah Cinere biar deket ama kantor. Suami punya keinginan mo ngambil sertifikat IT (apalah namanya, ane kagak ngarti …), klo di Bogor kan keburu cape’.
    tapi semuanya tergantung izin Allah, kami cuma bisa berdo’a aja …

  2. Mba Yeni … asik kalo pindah ke cinere kita deket dong🙂 he he he he

    Bunda Zahra say’s: “Baru rencana mba’ … klo rumah yang di Bogor laku hehehe”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s