Sebuah Kepercayaan …

Kejadian ini tepatnya berlangsung kemarin … sebagai seorang istri aku teruji dari kesabaranku, kejujuranku dan kebanggaanku terhadap suami dan anakku …

Sebuah cerita yang layak untuk kurenungi, mungkin juga untuk para istri semuanya, disini aku benar-benar merasa bahwa aku sangat bangga menjadi seorang istri dari suamiku, aku bangga menjadi ibu dari buah cintaku bersama suamiku …

25 Juli 2007

Hari ini adalah akhir bulan dari Kas rumah tangga kami, berarti harus belanja bulanan nih pikirku. Sementara aku lihat hari ini bukan hari libur suamiku, berarti suami tidak bisa mengantarku belanja. Sementara menunggu hari libur masih beberapa hari lagi, kebutuhan yang mendesak adalah stok susu Zahra. Sementara akupun sekarang sedang mengandung buah cinta kami yang kedua, akupun perlu susu buat dede’ diperutku. Kebutuhan pokok yang lainpun ternyata sudah banyak yang habis.

Aku lirik juga hari ini tanggal terakhir jadwal bayar listrik … oke harus keluar pikirku. Semalam juga aku sudah mempersiapkan list order jualanku yang akan aku kirim ke orang produksi supaya cepat dikerjakan karena para resseler hari ini akan transfer uang pesanan. O… O … siang ini temanku akan datang kerumah untuk melihat file yang ia minta carikan dari situs diinternet dan mungkin seperti biasanya akan ngobrol-ngobrol panjang lebar seputar kehidupan kami sehari-hari…

aku berpikir sejenak … kepentinganku lebih penting dibanding bertemu temanku … akhirnya dengan berat hati aku pergi juga. Biarlah besok aku atur janji lagi bertemu temanku, toh keperluannya tidak mendesak … anakku lebih membutuhkan usahaku.

Keesokannya, temanku datang juga untuk menagih janji file dariku yang sudah aku simpan diharddisk-ku. Singkat ia baca dan mencatat beberapa keperluannya dihandphonenya. Seperti biasa akhirnya kami mengobrol sambil mengawasi anak-anak kami, karena teteh-nya Zahra sudah pulang (teteh cuma kerja dari pagi sampai sore dirumahku) jadi aku harus sesekali mengontrol Zahra bermain dengan temannya.

Dan sampai pada saat aku bercerita … yah agak cur-hat juga … bahwa aku kemarin keluar untuk berbelanja kebutuhan pokok rumah tanggaku, tiba-tiba aku pusing dan mual maklum baru bulan ke-2 kehamilanku. Itu dikarenakan aku susah sekali makan nasi, semua yang beraroma tercium dihidung tidak bisa kumakan … akhirnya badanku jadi lemas. Di Swalayan tempat aku berbelanja aku mencoba duduk dan beristirahat sambil makan makanan ringan untuk menambah kekuatanku, tapi tetap saja aku lemas dan berkeringat dingin … untungnya tempat itu dekat dgn bagian produksi orderan-ku. Aku kesana dulu untuk menyimpan order dan beristirahat sejenak. Alhamdulillah … temanku yang satu ini walaupun berbeda keyakinan denganku dia sangat baik dan begitu pengertian. Aku dilayani dengan penuh perhatian, sejenak aku rileks disana … dan kesegaran tubuhku kembali pulih … maka aku bisa melanjutkan belanjaku …

Apa komentar teman yang ada dirumahku???? Ia lalu bercerita membandingkan bagaimana rumah tangganya, kalau ia setiap bulan tidak pernah dipusingkan dengan belanja bulanan, beli susu untuk anaknya dan lain sebagainya. Suaminya-lah yang mengatur dan mengurusi hal-hal tersebut. Suaminya setiap minggu berbelanja sepulang kantor diswalayan dekat kantornya untuk kebutuhan susu anaknya dan kebutuhan pokok rumah tangganya. Temanku itu tidak mau dipusingkan dengan urusan semacam itu (padahal ia juga hanya ibu rumah tangga biasa). Ia diberi jatah oleh suaminya hanya untuk porsi dia saja untuk belanja-belanja kebutuhannya sendiri dan pakaian anak-anaknya … Selebihnya suaminya yang bertanggung jawab. Bahkan untuk makanan suaminya pun ia tidak mau dipusingkan, kalau suaminya ingin makan enak disuruhnya untuk beli diluar… Apalagi masalah dana pendidikan anak-anaknya dan dana rumah tangganya ia sama sekali tidak mau tahu, yang ia mau tahu suaminya harus bisa mencukupi semua kebutuhan itu. Kalaupun ia punya penghasilan tambahan itu adalah pemasukan untuk dirinya sendiri … Aneh pikirku, sedangkan aku berjuang mencari sedikit-demi sedikit tambahan yang akan aku gunakan untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan diluar kebutuhan pokok rumah tangga kami, seperti pakaian-pakaian bagus buat kami sekeluarga. Sedangkan sisanya aku tabung untuk mudik lebaran ke rumah orangtua kami agar tidak mengurangi tabungan masa depan keluargaku.

Ah …. agak sedikit menciut juga hatiku mendengarnya, entah perasaan apa yang ada dipikiranku tapi aku tidak berkomentar tentang cerita temanku itu sampai saatnya ia pulang. Saat aku termenung kembali kuingat-ingat cerita temanku itu … dan aku sadar alangkah bahagianya aku sebagai istri dari suamiku karena aku berbeda jauh dengan temanku. Aku seorang istri yang telah dipercaya suami untuk mengelola keuangan rumah tangga kami, mengatur menu makanan suami dan anakku, mendidiknya dirumah sehingga ia menjadi Zahra yang lucu, yang pintar dan menyenangkan hatiku. Perencanaan-perencanaan kedepanpun sudah mulai kami persiapkan dari memilih sekolah Zahra (aku harus berburu referensi sekolah mana yang bagus), tabungan dan asuransi pendidikannya, bisnis yang akan kami kelola berdua saja dan lain sebagainya …

Ditambah lagi saat ini … akupun telah diberi kepercayaan oleh Sang Maha Pencipta untuk kembali mendidik anak kami yang kedua yang masih ada diperutku. Tak henti-hentinya aku bersyukur … ya Allah, Ya Rabb … lapangkan lah jalan kami menuju keridhoan-Mu …

Alangkah nikmatnya … saat perasaanku tersadar bahwa aku adalah seorang istri yang begitu dihargai oleh suamiku dan aku seorang Bunda yang sangat dinanti kasih-sayangnya oleh anakku. Semoga hatiku tetap diberikan perasaan seperti ini, karena dengan kejadian ini aku bisa berfikir positif bahwa aku adalah seorang istri yang telah dipercayai oleh suamiku tercinta … Amin …

2 pemikiran pada “Sebuah Kepercayaan …

  1. Maap bole nimbrung dikit.. Bagaimanapun mbak niat mbak untuk membantu keuangan keluarga dengan meringankan beban suami bila didasari hanya untuk mencari Ridho Allah semoga akan bermanfaat mbak.. Begitu pula dengan niat berbelanja.. Bila mbak niatkan untuk keluarga Insya Allah baik mbak.. Gak usah dipikirin konetar temen.. Belum tentu suaminya suka dengan kebiasan istrinya tersebut..
    Maaf sebelumnya kalo turut nimbrung makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s